Subang – Insentif untuk mobil hibrida tetap menjadi topik hangat di tengah penjualan mobil yang lesu saat ini di Indonesia. Saat ini, mobil hibrida belum menerima insentif, meskipun angka penjualannya mengesankan dibandingkan mobil listrik murni or Kendaraan Listrik Baterai (BEV), yang mendapat manfaat dari insentif pemerintah.
Selama periode Januari-Desember 2023, mobil hibrida mencatat penjualan sebanyak 54.179 unit, dengan jumlah yang jauh melampaui BEV, yang hanya mencapai penjualan sebanyak 17.051 unit. Perbedaan ini memicu diskusi tentang perlunya insentif untuk kendaraan hibrida.
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Ilmate di Kementerian Perindustrian (Kemeperin), Putu Juli Ardika, menyoroti pentingnya insentif ini dalam upacara peletakan batu pertama untuk pembangunan pabrik Vinfast di Subang, Jawa Barat, pada Selasa, 16 Juli 2024.
“Insentif diperlukan agar kita tidak tertinggal oleh negara-negara tetangga seperti Thailand,” kata Putu. “Saat ini, ini hanya berupa diskursus. Kami akan mencoba mendorong agar setidaknya bisa diharmonisasikan, jadi kita tidak tertinggal jauh dari Thailand.”
Putu menekankan bahwa pesaing utama Indonesia dalam pasar mobil hibrida adalah Thailand. “Saat ini, banyak kendaraan hibrida yang masuk ke Thailand. Kita tidak boleh terlambat merespons hal itu. Jika kita dapat mempercepat proses pemberian insentif untuk mobil hibrida, itu akan menguntungkan. Kami mendorong agar diskursus ini segera menjadi kenyataan,” jelasnya.
Mobil hibrida sudah termasuk dalam program Kendaraan Bermotor Hemat Energi dan Harga Terjangkau (KBH2), seperti yang dinyatakan dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 74 Tahun 2021 (PP74/2021). Namun, Putu menunjukkan bahwa, sejauh ini, insentif hanya diterapkan untuk mobil listrik atau BEV, sedangkan kendaraan hemat energi lainnya (KBH2) dikesampingkan.
“Sejauh ini, insentif untuk KBH2 telah dinyatakan dalam PP74/2021, tetapi hanya mobil listrik atau BEVyang telah diimplementasikan, sementara yang lainnya sudah menjadi Kendaraan Bermotor Hemat Energi (KBH2),” tutup Putu.
Insentif dan Pasar Mobil Hibrida
Pertimbangan insentif mobil hibrida sangat penting untuk menjaga daya saing Indonesia dalam industri otomotif. Saat pasar otomotif global beralih ke alternatif yang lebih ramah lingkungan, memberikan insentif untuk kendaraan hibrida dapat merangsang penjualan dan mendorong konsumen untuk memilih opsi yang lebih ramah lingkungan.
Thailand telah memberikan contoh dengan menyambut banyak kendaraan hibrida , menciptakan pasar yang kuat untuk mobil-mobil ini. Jika Indonesia gagal menyamai insentif ini, maka berisiko tertinggal dalam pasar otomotif regional. Kekhawatiran ini diungkapkan oleh para ahli industri yang percaya bahwa insentif dapat secara signifikan meningkatkan penjualan mobil hibrida , mirip dengan dampak yang terlihat pada BEV.
Peran Pemerintah dan Ekspektasi Industri
Pemerintah Indonesia memainkan peran penting dalam membentuk masa depan industri otomotif. Dengan mempertimbangkan insentif untuk mobil hibrida, pemerintah mengambil langkah untuk mendorong pasar yang lebih berkelanjutan dan kompetitif. Para pelaku industri optimis bahwa diskursus ini segera akan diterjemahkan menjadi kebijakan konkret.
Produsen otomotif sangat antusias dengan perkembangan ini. Dengan pembangunan pabrik Vinfast di Subang, industri ini siap untuk berkembang. Namun, agar pertumbuhan ini berkelanjutan, kebijakan pemerintah yang mendukung sangat penting.
Masa Depan Mobil Hibrida di Indonesia
Potensi mobil hibrida di Indonesia sangat besar. Dengan insentif yang tepat, kendaraan hibrida bisa menjadi pilihan utama bagi konsumen, mengurangi jejak karbon negara dan berkontribusi pada upaya global untuk memerangi perubahan iklim.
Saat pemerintah mempertimbangkan hal ini, industri otomotif dan konsumen sama-sama mengamati dengan seksama. Pengenalan insentif untuk mobil hibrida bisa menjadi titik balik penting bagi pasar otomotif Indonesia, menyelaraskannya dengan tren global menuju keberlanjutan.


















































