Pemerintah Indonesia akan mengembangkan mobil otomatis dalam rencana untuk Nusantara, ibu kota baru di Kalimantan Timur. Menurut Moeldoko, Kepala Kantor Staf Presiden dan ketua Periklindo, Asosiasi Industri Kendaraan Listrik Indonesia, langkah ini sejalan dengan visi menjadikan Nusantara sebagai kota percontohan untuk kendaraan listrik.
Akan ada fase percobaan kendaraan otonom di Nusantara, yang akan melompat secara signifikan menuju realisasi visi futuristik ini untuk kota, menurut Moeldoko. Dia lebih lanjut menekankan bahwa pemerintah tidak mendorong pendirian hub produksi EV di Nusantara karena kota tersebut bukanlah zona industri. Sebaliknya, merangkul bisnis untuk mendukung integrasi dan operasi kendaraan otonom dalam ekosistem kota ini sangat diperlukan.
Langkah menuju adopsi mobil otomatis ini mencerminkan komitmen luas dari pemerintah untuk membangun lingkungan perkotaan yang berkelanjutan dan maju secara teknologi. Moeldoko mengulangi seruan kepada para pelaku industri EV untuk berkontribusi dalam penciptaan ekosistem EV yang kuat di Nusantara, yang mungkin menjadi model bagi kota lain di Indonesia atau bahkan di seluruh dunia. Menurut Agung Wicaksono, wakil deputi untuk pembiayaan dan investasi di Otorita Ibu Kota Nusantara, atau OIKN, ada minat besar dari perusahaan nasional dan internasional untuk menjadi bagian dari ekosistem EV di Nusantara. Perusahaan-perusahaan ini termasuk operator transportasi Singapura ComfortDelGro, pembuat EV China BYD, dan pembuat mobil dari Ceko Skoda. Perusahaan dalam negeri seperti PT Blue Bird dan perusahaan pelat merah Damri juga mendukung ini.
Perusahaan listrik milik negara PLN telah memasang sebanyak enam stasiun pengisian publik bertenaga surya di seluruh Nusantara untuk mendukung adopsi kendaraan listrik. Inilah jenis pengembangan infrastruktur ke mana operasi kendaraan listrik dan otonom dikuatkan dan melanjutkan komitmen kota-kota terhadap keberlanjutan.
Integrasi mobil otomatis dalam rencana pengembangan Nusantara, pada prinsipnya, adalah deklarasi ambisi oleh pemerintah Indonesia untuk berdiri di garis depan dengan menghormati pengembangan kota yang berkelanjutan. Para pemangku kepentingan—baik perusahaan internasional dan domestik—yang terlibat membuktikan bahwa diperlukan banyak tangan bersatu untuk merealisasikan visi semacam itu.


















































