JAKARTA – Dalam upaya untuk mengubah dirinya menjadi pemimpin global dalam kendaraan listrik (EV) produksi dan penjualan, Kementerian Keuangan Indonesia telah meluncurkan serangkaian insentif pajak baru. Insentif ini dirancang untuk mendorong produksi dan penjualan EV dalam negeri, memanfaatkan sumber daya alam yang luas dan lokasi strategis negara.
Insentif Pajak Utama untuk Meningkatkan Produksi EV
Insentif baru ini meliputi penghapusan pajak barang mewah pada kendaraan listrik untuk 2024, pembebasan bea impor hingga 2025, dan pengurangan signifikan dalam pajak pertambahan nilai (PPN) pada penjualan EV. Langkah-langkah ini diharapkan dapat mendorong pertumbuhan pasar EV di Indonesia, membuat EV lebih dapat diakses dan terjangkau bagi konsumen.
Memanfaatkan Cadangan Nikel
Indonesia memiliki deposit nikel terbesar di dunia, komponen penting dalam produksi baterai EV. Pemerintah bertujuan untuk memanfaatkan keunggulan alam ini untuk mengembangkan EV rantai pasokan domestik yang terintegrasi sepenuhnya. Dengan target yang ambisius, Indonesia berencana menjadi produsen baterai listrik terbesar ketiga pada 2027, mencapai kapasitas produksi tahunan 140GWh pada 2030.
Target Produksi EV yang Ambisius
Selain produksi baterai, Indonesia menargetkan produksi 600.000 kendaraan listrik pada 2030. Target ini menekankan komitmen negara untuk menjadi pemain utama dalam pasar EV global.
Insentif PPN untuk Produksi Konten Lokal
Untuk mendorong penggunaan komponen yang diproduksi secara lokal, pemerintah telah memperkenalkan insentif PPN untuk EV dengan konten lokal yang substansial. Konsumen yang membeli mobil dengan lebih dari 40 persen komponen yang diproduksi secara lokal akan mendapat manfaat dari pengurangan PPN dari 11 persen menjadi hanya 1 persen. Insentif ini berlaku hingga Desember 2024, dengan persyaratan konten lokal yang diatur naik menjadi 60 persen pada 2027.
Bus listrik yang menggabungkan antara 20 dan 40 persen komponen lokal akan menerima subsidi PPN sebesar lima persen, mengurangi tarif PPN bagi konsumen menjadi enam persen.
Insentif Pajak Penjualan Barang Mewah
Perusahaan yang mengimpor kendaraan listrik CBU (completely-built-up) roda empat berhak mendapatkan pembebasan pajak penjualan barang mewah dan bea impor. Selain itu, perusahaan yang mengirimkan kendaraan listrik CKD (completely-knocked-down) roda empat yang dibangun dengan 20 hingga 40 persen komponen lokal juga akan mendapat manfaat dari pembebasan pajak penjualan barang mewah. Namun, bisnis harus mematuhi kriteria investasi khusus untuk memenuhi syarat insentif ini.
Kriteria Investasi untuk Insentif Pajak
Untuk memenuhi syarat insentif pajak baru, bisnis harus:
- Membangun fasilitas manufaktur EV di Indonesia.
- Transisi produksi dari kendaraan mesin pembakaran internal ke EV, baik sebagian atau seluruhnya.
- Investasi dalam fasilitas manufaktur EV yang ada untuk meningkatkan produksi dan mengembangkan produk baru.
Insentif ini tersedia hingga Desember 2024, memberikan jendela waktu terbatas bagi perusahaan untuk memanfaatkan manfaat tersebut.
Strategi Industri Baterai Listrik Indonesia
Visi strategis Indonesia melampaui produksi EV untuk mencakup seluruh rantai pasokan EV. Investor asing didorong untuk mengeksplorasi peluang dalam peleburan nikel, manufaktur baterai EV, dan produksi kendaraan. Pemerintah bertujuan mencapai 2,5 juta pengguna EV pada 2025, mencerminkan rencana ambisiusnya untuk sektor ini.
Cadangan dan Produksi Nikel
Indonesia memiliki sekitar 21 juta ton cadangan nikel, yang menyumbang sekitar 22 persen dari cadangan global. Negara ini juga merupakan produsen nikel terbesar di dunia, dengan produksi mencapai 1 juta ton pada 2021. Sementara 70 persen penggunaan nikel saat ini menuju ke sektor baja tahan karat, ada permintaan yang meningkat untuk nikel dalam produksi baterai EV. Pada 2030, permintaan dari sektor baterai EV diharapkan menyumbang sepertiga dari total permintaan nikel.
Pengembangan Fasilitas Bahan Lithium dan Anoda
Selain nikel, Indonesia sedang mengembangkan kilang litium dan fasilitas produksi bahan anoda untuk melengkapi industri baterai berbasis nikelnya. Secara historis, smelter nikel Indonesia telah memproduksi nikel Kelas 2 (ferronikel/besi kasar), sementara produksi katoda baterai memerlukan nikel Kelas 1, yang mengandung setidaknya 99,8 persen nikel.
Meskipun kurangnya deposit lithium yang kaya di Indonesia, negara ini akan mengimpor 60.000 ton lithium dari Australia mulai 2024. Australia saat ini memasok sekitar setengah dari lithium dunia, dengan sebagian besar ekspor menuju China. Dengan mengimpor lithium, Indonesia bertujuan untuk memperkuat kemampuan produksi baterainya dan lebih mengintegrasikan dirinya ke dalam rantai pasokan EV global.
Investasi dari Produsen EV Global
Produsen EV global, termasuk Tesla dari AS dan BYD dari China, dilaporkan sedang menyelesaikan kesepakatan untuk berinvestasi di Indonesia. Investasi ini diharapkan dapat secara signifikan meningkatkan kapasitas produksi EV negara dan membantu mencapai target ambisiusnya.


















































